FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini6088
mod_vvisit_counterKemarin13180
mod_vvisit_counterMinggu Ini61119
mod_vvisit_counterMinggu Lalu30966
mod_vvisit_counterBulan Ini111278
mod_vvisit_counterBulan Lalu12656
mod_vvisit_counterJumlah1903784

We have: 127 guests online
IP: 54.226.73.255
25 Apr, 2019



PostHeaderIcon Terbaru

Bahayanya Orang Munafik

Munafik itu identik dengan kedustaan, pengkhianatan, penipuan, penyesatan, kedzaliman, kekufuran dan pembangkangan. Karena itu, perbuatan munafik persis dengan tabiat setan yang mengingkari kebenaran, kejujuran dan perbuatan yang haq.

Bahkan dalam satu sisi orang munafik itu lebih jahat dan lebih ekstrim dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan orang kafir. Orang kafir memusuhi Islam secara transparan, sedangkan yang dilakukan orang munafik adalah menghancurkannya dari dalam dengan menggunakan berbagai topeng agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui.

“Orang-orang munafik laki-laki dan wanita, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)

Karenanya, orang-orang munafik itu tak henti-hentinya menabur racun dan virus yang merusak umat Islam. Apakah dalam bentuk budaya, ideologi, kegiatan sosial, mode pakaian, iklan atau slogan-slogan yang menyesatkan. Amat banyak peristiwa yang menyedihkan, yang dapat membangunkan bulu kuduk adalah akibat tipu daya mereka yang memotivasi hawa nafsu kepada kebatilan. Itulah akhlak yang tercela yang meruntuhkan keutamaan dalam jiwa, membunuh kreativitas dan mengkikis habis butir-butir kemuliaan sebagai orang yang berakal.

Ibnu Abbas menerangkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Di akhir zaman nanti akan datang sekelompok manusia yang wajahnya wajah manusia, tapi hatinya hati setan. Sifat mereka sangat buas seperti harimau, tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya rasa kasih sayang. Mereka suka membunuh, dan biasa melakukan perbuatan kotor.

Bila didekati, mereka mencintaimu. Tapi bila dijauhi, mereka mengumpat dan membencimu. Bila dipercaya, mereka khianat. Anak-anak kecil di lingkungan mereka sudah terbiasa berhutang, remajanya sudah rusak moralnya, dan kalangan tuanya sangat jahat. Mereka tidak mau lagi melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Siapapun yang memuji dan memuliakan mereka akan menjadi orang yang hina, dan siapapun yang meminta sesuatu kepadanya akan menjadi orang fakir. Yang mereka tegakkan adalah bid’ah, dan yang mereka jauhi adalah sunnah Rasul.

Ketika keadaan sudah demikian, maka Allah menguasakan mereka kepada pemimpin yang jahat, dan do’a mereka tidak lagi dikabulkan oleh Allah SWT.”

Ancaman Allah itu dikarenakan kejahatan, kedzaliman dan kekufuran yang dilakukan orang-orang munafik itu sudah kelewat batas. Sifat yang sudah membudaya pada orang munafik amat sulit dimusnahkan, karena telah terpatri ke dalam jiwa, berurat dan berakar dalam hatinya. Akibatnya, semua orang akan memalingkan diri. Yang dekat menjadi jauh, kawan menjadi lawan. Keadaan seperti inilah yang dikehendaki orang munafik.

Mu’adz bin Jabal menuturkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Kelak akan datang kepada umat manusia suatu zaman dimana mereka merusak sunnahku, dengan melakukan bid’ah. Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada sunnahku, dia akan dikucilkan. Barangsiapa mengikuti ajaran bid’ah, dia akan mendapatkan lima puluh kawan atau lebih banyak lagi.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, sesudahku nanti masih adakah orang yang memiliki keistimewaan?” Jawab Rasulullah: “Ya, masih ada.” Para sahabat bertanya lagi: “Adakah mereka masih bertemu denganmu?” Jawab Rasulullah: “Mereka sudah tidak lagi bertemu denganku.” Para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah, masih adakah wahyu yang diturunkan kepada mereka?” Jawab Rasulullah: “Sudah tidak ada lagi wahyu yang diturunkan kepada mereka.” Lalu para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimana keadaan mereka?” Jawab Rasulullah: “Hati mereka rapuh, bagaikan garam dimasukkan ke dalam air.” Para sahabat kemudian bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pola hidup mereka di zaman itu?” Jawab Rasulullah: “Mereka hidup bagaikan ulat yang sangat kecil yang berada dalam cokak.” Para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah, terus bagaimana mereka dapat memelihara agamanya?” Jawab Rasulullah: “Ibarat memegang api yang membara. Bila diletakkan, api itu padam, dan bila dipegang, tentu akan membakar dirimu.”

Jadi, di zaman akhir keadaan umat manusia sudah tidak lagi memperhatikan agama. Justru hidup mereka dipenuhi dengan nafsu dan keserakahan. Memegang ajaran agama ibarat memegang api yang membara. Dipegang teguh, banyak mendapat cacian, cercaan, hinaan, dan dijauhi kawan. Tapi, bila dilepas, agama akan hancur, dan kita akan mendapat adzab Allah yang lebih besar di akhirat.

Dalam situasi yang demikian, yang paling istimewa adalah orang yang tetap memegang teguh ajaran agama, tanpa harus menjual agama dengan harga keduniaan yang sangat murah.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com