FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini255
mod_vvisit_counterKemarin621
mod_vvisit_counterMinggu Ini876
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3028
mod_vvisit_counterBulan Ini8351
mod_vvisit_counterBulan Lalu14986
mod_vvisit_counterJumlah1548317

We have: 19 guests online
IP: 54.92.194.75
18 Des, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

KH. Anwar

Lahir di Probolinggo (tidak diketahui tanggal dan tahun kelahirannya). Wafat Tahun 1992, Dimakamkan di Komplek Pesantren Annur Bululawang. Pendidikan Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo dan Pesantren Sidogiri Pasuruan, dll. Putra/Putri 7 Orang

Perjuangan/Pengabdian :
Pendiri Ponpes Annur Bululawang, Mustasyar NU Kabupaten Malang.

Kiai Ahli Mujahadah, Pemerhati Ilmu

Suatu ketika KH. Drs. Ahmad Hasyim Muzadi pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya, ada dua orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya. Pertama KH. Abdullah Faqih, Pengasuh Ponpes Langitan Tuban. Kedua KH. Anwar Nur, Pengasuh Ponpes An-Nur Bululawang.

Kiai  Hasyim mengatakan, ketika beliau diajak bepergian oleh Kiai Anwar sampailah di sebuah daerah persawahan di Blimbing (sekarang Jalan Cengger Ayam). Kiai Anwar berkata kepada Hasyim. “Di sini nanti tempat kamu mendirikan pesantren.”

Kiai Hasyim bertanya-tanya, bukankah ini tanah orang? Tapi, beberapa tahun kemudian, ternyata perkataan Kiai Anwar itu terbukti. Atas Takdir dan Karunia Allah, di tanah tersebut berdiri Pondok Mahasiswa Al Hikam, diasuh Kiai Hasyim Muzadi, yang kini menjadi Ketua Umum PBNU.

Menurut beberapa sumber, asal-usul keluarga KH. Anwar Nur berasal dari Madura, tepatnya di Toket, Pamekasan. Penduduk daerah tersebut termasuk golongan para kiai yang mengasuh pondok pesantren. Tapi, beliau sendiri  dilahirkan di Probolinggo, tidak diketahui secara pasti tanggal dan tahun kelahirannya. Ayah KH. Anwar bernama Nur, dan nama ibu beliau tidak sempat diketahui oleh cucu-cucu beliau. Dari pernikahan itu, dikaruniai sepuluh orang putra. Hingga sekarang saudara sekandung KH. Anwar yang masih hidup tinggal seorang bernama Haji Thoyib pengasuh salah satu Ponpes di Probolinggo.

Kiai Anwar termasuk sosok yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Seluruh waktu beliau digunakan untuk memperdalam ilmu agama Islam.  Beliau tidak hanya berguru kepada seorang kiai dan satu pesantren saja. Tetapi berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lain. Seperti di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo dan Pesantren Sidogiri Pasuruan, dan beberapa pesantren lain.

KH. Anwar mendirikan pesantren di Bululawang berkat petunjuk dari guru beliau ketika masih belajar di salah satu Pesantren. Berdasarkan petunjuk tersebut, kemudian beliau berjalan ke arah selatan, dan sampailah di Bululawang. Satu hal yang selalu beliau pegang dari petunjuk guru beliau adalah mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat dalam keadaan apa pun. Karena itu seluruh waktu beliau digunakan untuk mengajarkan ilmu agama. Di sela-sela mengajar, beliau meracik dan menjual jamu tradisional ke desa-desa sekitar. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup beliau,  juga untuk bisa berhubungan dengan masyarakat.

Di desa itu, beliau diambil menantu oleh keluarga kaya. Setelah mempersunting gadis Bululawang yang bernama Marwiyah, dengan bantuan orangtua dan masyarakat di sekitarnya yang dengan rela mewaqafkan tanahnya untuk kepentingan Islam, maka dibangunlah sebuah mushola di belakang rumah beliau, dan beberapa kamar untuk tempat tinggal  beberapa santri nantinya. Untuk kebutuhan harian disediakan lahan pertanian seluas 2 hektar.

Secara resmi Pesantren itu didirikan pada tahun 1942, dan diberi nama An Nur, yang merupakan kepanjangan dari Anwar Nur, sesuai nama pendirinya. Dari pernikahan beliau, dikaruniai empat orang putra dan tiga orang putri. Dari ketujuh putra itu, semuanya mendirikan Pondok Pesantren yang tersebar di Malang, Pasuruan dan Lumajang.

Pada mulanya pesantren ini hanya mendidik santri putra yang dipimpin langsung Kiai Anwar. Baru pada 1960 mendidik santri putri, setelah putri beliau kembali dari belajarnya di salah satu pesantren di Jombang.
Dalam usaha mengembangkan lembaga pendidikan Islam ini dibentuklah Yayasan Pendidikan An-Nur. Selain sistem pendidikan pesantren terus dikembangkan, Yayasan An-Nur juga mendirikan sistem pendidikan formal mulai Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, SMP, SMU An Nur. Karenanya pada 1973, An Nur ditetapkan Pemda Kabupaten Malang sebagai pesantren percontohan ‘Pilot Proyek Pondok Pesantren’.

Semasa hidupnya perhatian beliau lebih banyak dicurahkan kepada  pesantrennya. Namun demikian beliau tidak melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin masyarakat. Beliau pernah menjabat sebagai mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang.

Keberadaan orang yang memiliki kharisma tinggi di kalangan masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Wibawa Kiai dimata santri dan masyarakat sering dikaitkan dengan tingkat kealimannya. Demikian pula dengan Kiai Anwar.

Di akhir hayat beliau tidak ada waktu untuk tidak digunakan untuk dzikir dan membaca Al Qur’an. Lisan beliau tidak bernah berhenti untuk dua hal tersebut. Kiai Badruddin, salah seorang putra Kiai Anwar menceritakan, beliau kadang tidak tahu kapan waktu tidur Kiai Anwar. Ibu  Marwiyah mengatakan kepadanya, “Lihatlah abahmu, dalam keadaan tidur beliau masih berguman membaca surah Yasin.”

Selain bidang pendidikan, Kiai Anwar adalah Kiai yang ahli mujahadah. Di masa pemberontakan PKI tahun 1965, beliau menjadi tempat orang mencari ilmu kanuragan. Namun, pendidikan lah yang beliau lebih perhatikan. Begitu besarnya perhatian beliau pada pendidikan, sampai kebiasaan beliau mengajar santri barbeda dengan yang lain. Umumnya mengaji adalah guru membacakan kitab, sedangkan santri-santri mendengar dan ngesahi kitabnya. Namun kiai Anwar berbeda. Satu orang santri ngesahi kitab, sedangkan Kiai Anwar di hadapan satu orang santri  membaca kitab yang ada di tangan santri itu. Kiai Anwar membaca kitab milik santri dalam keadaan terbalik.

Kiai yang low profile ini wafat pada tahun 1992, dan dimakamkan di Komplek Pesantren Annur Bululawang. Selama hayatnya, telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat dengan peninggalannya berupa pesantren dan lembaga pendidikan formal.

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com