FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini150
mod_vvisit_counterKemarin379
mod_vvisit_counterMinggu Ini2274
mod_vvisit_counterMinggu Lalu6017
mod_vvisit_counterBulan Ini14097
mod_vvisit_counterBulan Lalu20895
mod_vvisit_counterJumlah1678496

We have: 6 guests, 4 bots online
IP: 54.159.91.117
23 Jun, 2018



PostHeaderIcon Terbaru

Orang Fasik, yang Jadi Kekasih Allah

Di zaman Nabi Musa as ada seorang lelaki meninggal dunia. Dia sangat fasik, hingga tak seorangpun penduduk kampung yang sudi mengubur jenazahnya. Bahkan, hingga mayatnya diseret kemudian dibuang di tempat kotoran unta.

Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa: "Hai Musa, ada seorang lelaki di kampung Anu meninggal. Jenazahnya dibuang di tempat kotoran unta. Dia adalah bagian dari kekasih-Ku. Orang kampung tidak ada yang bersedia mengurusnya, maka uruslah. Segeralah engkau berangkat ke kampung Anu. Mandikan, kafani, shalati dan kuburkanlah jenazahnya."

Setelah mendapat wahyu, Nabi Musa segera berangkat. Kepada penduduk kampung, Musa menanyakan perilaku keseharian si mayit semasa hidupnya. Ditanyakan pula, hingga mengapa mereka memperlakukan si mayit sekasar itu. Jawab mereka; "Dia mati ketika penduduk kampung sedang marah dan membencinya. Dia fasik, melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan." Lalu Musa bertanya lagi: "Di manakah sekarang jenazah itu dikuburkan. Tunjukkanlah kepadaku di mana jenazah itu kalian buang." Penduduk kampung kemudian mengantarkan Nabi Musa, dan menunjukkan tempat pembuangan jenazah.

Nabi Musa menyaksikan sendiri keadaan jenazah yang dibuang di tempat kotoran unta, dan mendengar langsung cerita perilaku kesehariannya. Lalu Musa bermunajat, bertanya kepada Allah: "Ya Allah, Engkau memerintahkan kepadaku agar memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan mengubur jenazahnya, padahal penduduk kampung menyaksikan bahwa semasa hidupnya dia selalu berbuat maksiat secara terang-terangan. Sungguh, hanya Engkaulah yang lebih mengetahui daripadanya apa yang mereka katakan."

Jawab Allah: "Hai Musa, memang benar apa yang mereka katakan. Dia adalah orang yang sangat jelek akhlaknya. Tapi, ketika sakaratul maut dia sempat minta pertolongan kepada-Ku dengan tiga hal. Seandainya, semua orang yang berbuat dosa bersedia meminta pertolongan kepada-Ku, dengan tiga hal sebagaimana yang dilakukansi mayit, niscaya Aku memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Bagaimana Aku tidak bersedia mengampuni, sedangkan dia minta ampunan kepada-Ku. Bukankah Aku Mahapengasih dan Mahapenyayang?

Lalu Nabi Musa bertanya: "Ya Allah, apakah tiga perkara itu?"

Jawab Allah: Tiga perkara itu adalah; Pertama, ketika sakaratul maut, dia berkata: "Ya Alllah, sungguh Engkau lebih mengetahui keadaan diriku yang selalu berbuat maksiat. Dalam hati kecilku, sungguh sangat membenci kemaksiatan yang aku lakukan. Tapi, karena terpengaruh oleh tiga perkara yang selalu menggodaku, hingga maksiatpun aku lakukan. Tiga perkara yang selalu menyelubungi dan menggoda hatiku adalah hawa nafsu, teman bergaul yang jahat, dan iblis. Ya Allah, sungguh Engkau Mahamengetahui segala perilaku yang telah aku lakukan, hingga berkenan kiranya Engkau mencurahkan ampunan kepada hamba-Mu yang bersimbah dosa ini."

Kedua, ketika sakaratul maut dia berkata: "Ya Allah, sungguh Engkau lebih mengetahui bahwa diriku telah banyak melakukan kemaksiatan, lantaran aku bertempat tinggal bersama orang-orang fasik. Sungguh nuraniku mengatakan, bahwa aku tidak suka berteman dengan mereka, dan lebih suka berteman dengan orang-orang yang shalih. Lebih dari itu, aku sangat menyukai sifat zuhudnya orang-orang yang suka beramal shalih, serta lebih senang bertempat tinggal bersama mereka daripada tinggal bersama orang-orang fasik."

Ketiga, ketika sakaratul maut dia berkata; "Ya Allah, Engkau lebih mengetahui tentang diriku. Sungguh orang-orang fasik sangat membutuhkan pertolonganku, demikian pula orang-orang shalih. Tentu, aku selalu mengutamakan kepentingan orang yang shalih."

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, lelaki tersebut ketika sakaratul maut (menjelang meninggal) berkata: "Ya Allah, bila Engkau berkenan mengampuni dosa-dosaku, tentu para kekasih-Mu dan para nabi-Mu akan merasa bahagia, sementara setan beserta pengikutnya akan merasa sangat sedih. Sebaliknya, bila Engkau tidak bersedia mengampuninya, tentu apara kekasih-Mu dan para nabi-Mu akan merasa sangat sedih, sementara setan beserta pengikutnya akan merasa bangga dan bahagia. Mereka tertawa, karena berhasil menyeret diriku ke dalam jurang neraka. Sungguh aku mengetahui, bahwa kegembiraan para kekasih-Mu lebih Engkau sukai daripada kegembiraan setan.

Allah kemudian menyampaikan pernyataan kepada Nabi Musa: "Hai Musa, lantaran rintihan hamba-Ku yang berlumuran dosa, kemudian Aku mencurahkan belas kasih, mengampuni serta melepaskan dia dari siksa neraka. Sungguh Aku adalah zat yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, lebih khusus bagi orang yang sadar dan mengakui perbuatan dosa yang terlanjur dilakukan. Hai Musa, kerjakanlah semua yang telah aku perintahkan. Betapa mulia orang yang sadar kemudian bertaubat dari dosa, hingga kemudian Aku mengampuni dosa-dosa yang dilakukan selama di dunia. Demikian pula Aku mengampuni dosa-dosa orang yang bersedia menyalati dan menguburkan jenazahnya."

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com