FOLLOW KAMI DI

Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini253
mod_vvisit_counterKemarin621
mod_vvisit_counterMinggu Ini874
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3028
mod_vvisit_counterBulan Ini8349
mod_vvisit_counterBulan Lalu14986
mod_vvisit_counterJumlah1548315

We have: 17 guests online
IP: 54.92.194.75
18 Des, 2017



PostHeaderIcon Terbaru

Do’a Seorang Sufi

Tatkala Allah berfirman, "Tangan Allah berada di atas tangan-tangan mereka," sebagaimana tercantum dalam surat Al fath ayat 11, kita pun terhenyak tidak mengerti, mengapa Tuhan mempunyai tangan? Padahal ia suci dari kesamaan dengan makhluk-Nya? Bukankah dengan demikian Tuhan telah menodai citra kemahatunggalan-Nya sendiri?

Tentu saja apabila kita menyerap firman itu melalui penalaran manusia, dan tidak bertolak dari jiwa tauhid yang meyakini akan tidak serupanya Allah dengan semua makhluk-Nya. Namun, kalau kita kembali kepada akidah tauhid, sudah pasti kita akan tahu bahwa tangan Allah yang dimaksudkan-Nya tidak seperti tangan kita.

Begitu pula seandainya kita menerjemahkan bahasa kesufian yang selalu bersayap dengan bahasa kaum awam. Kita akan terjerumus ke dalam salah paham dan naik pitam. Sebab kaum sufi, kadang-kadang berbicara dengan pendalaman hati sehingga tidak terungkapkan dengan bahasa lisan sepanjang bahasa lisan itu ditafsirkan dalam citra harfiah.

Dengarlah ucapan Abu Nuwas, yang bijak ketika ia hendak memohon ampunan Tuhan. Ia mengatakan, "Tuhanku, tidaklah aku pantas menjadi penghuni surga." Berhentilah kita di sini. Apa yang terkesan? Abu Nuwas adalah orang yang sombong, berani menentang kurnia Allah yang menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang beriman. Mengapa ia tidak berkata: "Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga-MU," sambil beribadah dan beramal saleh?

Lalu Abu Nuwas melanjutkan ucapannya: "Tetapi, aku tidak kuat menghadapi api neraka. "Bagaimana pula orang alim itu? Seharusnya ia cukup mengatakan: Tuhanku, janganlah Kau masukkan aku ke dalam neraka," sambil menghindari maksiat dan menjauhi dosa.

Baru kita bisa memahami kerendahan hatinya tatkala membaca ucapan berikutnya: "Makanya terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun terhadap dosa yang besar." Mengapa begitu?

Lantaran, sebagai seorang sufi, dengan kepekaan sukma dan nuraninya, ia merasa dirinya sangat kerdil dan disarati noda-noda, tidak sepadan dengan kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya.
Pernah Abu Nuwas didatangi seorang wanita yang menangis lantaran suaminya sakit batuk, dan tidak sembuh-sembuh. "Saya sudah mendatangi semua tabib dan dukun yang tersohor untuk mencarikan obat buat suami saya. Tapi, tidak ada yang berhasil. Tolonglah Tuan, bagaimana caranya agar batuk suami saya bisa reda," kata wanita itu.

Abu Nuwas berpikr sejenak. Kemudian ia memberikan segelas air putih kepada wanita tersebut. "Minumkan air ini kepada suamimu. "Apakah hanya dengan air ini batuk suami saya akan sembuh?" tanya si wanita agak ragu-ragu. "Pasti sembuh," jawab Abu Nuwas seolah ia mempunyai kuasa untuk menyembuhkan penyakit.
Maka sambil membungkuk-bungkuk tanda berterima kasih, wanita itu membawa air tersebut pulang ke rumahnya, dan meminumkannya pada suaminya.

Beberapa minggu kemudian, wanita setengah baya itu datang lagi kepada Abu Nuwas seraya marah-marah, "Setelah menghabiskan air pemberian Tuan, suami saya bukannya sehat kembali, tapi malah meninggal dunia. Tuan pembohong licik."

Abu Nuwas terdiam. Sesudah wanita yang tengah berbela sungkawa itu kelihatan tenang lagi, Abu Nuwas berkata, "Maaf, Bu. Soal mati itu bukan wewenang saya. Sebab ajal berada di tangan Tuhan. Saya cuma menyatakan, dengan meminum air pemberian saya, penyakit batuk suami Ibu pasti sembuh."
"Tapi nyatanya, suami saya meninggal dunia," sergah si wanita.
"Sabar dulu Bu," ujar Abu Nuwas. "Setelah suami Ibu meninggal, apakah ia masih batuk?"
"Tidak. Mana ada orang mati masih bisa batuk!"

"Nah, itulah maksud saya. Batuknya sembuh, bukan? Adapun akhirnya suami Ibu meninggal dunia, begitulah memang akhir hidup setiap insan. Saya dan Ibu pun bakal meninggal, bagaimana pula seorang Abu Nuwas dapat mencegah kematian kalau takdir Tuhan telah menentukan ajalnya?"
Sudah tentu, hanya orang-orang yang beriman kuat saja yang mampu menjaring kedalaman ucapan para bestari.

(dikutip dari 30 Kisah Teladan, karangan KH Abdurrahman Arroisi)

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com