Pencarian
Polling
Bagaimanakah Website Masjid Agung Jami Malang ?
 
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini789
mod_vvisit_counterKemarin431
mod_vvisit_counterMinggu Ini3826
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5662
mod_vvisit_counterBulan Ini16269
mod_vvisit_counterBulan Lalu18149
mod_vvisit_counterJumlah734991

We have: 5 guests, 5 bots online
IP: 54.166.111.111
25 Okt, 2014







PostHeaderIcon Terbaru

Seni Hadrah ISHARI yang Hampir Terlupakan

RANCAK: Jamaah ISHARI dari Pujon, dengan gaya yang khas dari kesenian Seni Hadrah ISHARI diiringi musik rebana (terbang) ketika tampil di masjid Agung Jami Malang.

Keberadaan seni hadrah yang tergabung dalam Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) semakin terpinggirkan oleh zaman. Seni pembacaan salawat yang diiringi dengan terbang (rebana) dan gerakan tarian dari puluhan laki-laki (rodat) sudah jarang ditemui di tengah kota. Keberadaanya lebih banyak didesa-desa yang masih membudayakan seni hadrah dengan para rodatnya.

Serambi Masjid Agung Jami Malang dipadati umat Islam dari berbagai generasi pada Selasa (15/2) malam. Cuaca yang bersahabat membuat para pecinta Nabi berbondong-bondong ke masjid yang umurnya sudah lebih dari satu abad itu. Mayoritas menggunakan pakaian putih dan berkopiah hitam dan putih.

Mereka duduk bersama sambil membacakan Shalawat Nabi dengan irigan terbang Albanjari. Terbang lbanjari bukan hal yang baru bagi umat Islam yang ada di Kota Malang. Hampir di setia majelis taklim, masjid dan jamaah memiliki grup terbang Albanjari yang alunan musiknya dapat diubah kontemporer.

Tapi yang membuat mereka betah berlama-lama duduk di serambi masjid, selain karena kecintaanya kepada kanjeng Nabi, mereka juga menunggu penampilan seni hadrah bersama rodat yang ditampilkan  Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) cabang Malang. Tidak kurang dari 500 orang jamaah anggota ISHARI didatangkan dari penjuru Malang raya untuk bershalawat bersama.

Berbeda terbang Albanjari, seni hadrah memiliki pakem tersendiri baik dalam lagu, pukulan terbang hingga tarian yang dilakukan puluhan hingga ratusan orang jamaah laki-laki atau yang dikenal dengan istilah rodat. Sesuatu yang khas dari kesenian ini ialah tarian yang mengiringi syair (yang dilagukan) dan musik rebana (terbang) yang dinyanyikan secara bersama-sama (berjamaah). Tarian inilah yang disebut dengan “rodat”

Seni hadrah (rodat) merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan umat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair berbahasa Arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat Islam yang menceritakan sifat-sifat Nabi dan keteladanan akhlaknya. ”Dulu seni hadrah berkembang dengan pesat di kalangan pesantren-pesantren. Sekarang di ISHARI cabang Malang ada 18 kelompok yang tercatat dan semuanya masih tetap eksis. Selama Maulid pun banyak undangan yang kami dapatkan. Hampir selama 40 hari banyak undangan yang kami terima,” kata Ketua ISHARI cabang Malang, KH. Ahmad Suyuti.

Dari seluruh Jawa Timur, seni hadrah di Malang raya yang paling sedikit dari daerah lainnya. Kalau di daerah lainnya banyak bermunculan kelompok-kelompok seni hadrah, di Malang perkembangannya tidak seperti di daerah lain. Ia mencontohkan seperti di Gresik yang memiliki anggota mencapai 2000 orang lebih. Satu kelompok seni hadrah biasanya mencapai 50 orang. Di Malang perkembangan saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Jika beberapa tahun lalu, jumlahnya seni hadrah hanya 11 kelompok, sekarang sudah berkembang menjadi 18 kelompok yang tersebar di Malang raya.
Jumlah ini tentunya masih kalah jauh dibandingkan dengan kelompok terbang Albanjari atau terbang jidor yang sama-sama membaca dan melantunkan shalawat Nabi.

”Kami terus melakukan pengembangan dari generasi ke generasi. Generasi muda banyak direkrut untuk melestarikan seni hadrah yang dulunya dikembangkan para ulama dikalangan pesantren,” terangnya.

Tarian yang dilakukan para rodat pun memiliki filosifi tersendiri. Tidak hanya asal menari. Nama rodat berasal dari Bahasa Arab dari kata Rodda yang artinya bolak-balik. Para penari itu memang selalu bolak-balik dalam menggerakan tangan, badan serta anggota tubuh lainnya.

Gerakannya pun disandarkan pada kisah penyambutan Kanjeng Nabi saat berhijrah ke Madinah. Saking gembiranya dengan kedatangan nabi ke Madinah, kaum Ansor berdesak-berdesak menyambut kedatangan Nabi. Berdesak-desakan itu tercermin dalam barisan yang rapat para rodat saat menggerakan tubuhnya. Tepukan tangan para rodatpun disandarkan para kegembiraan kaum Ansor yang menyambut kedatangan Nabi di Madinah, tepuk tangan dilakukan para perempuan yang lokasinya cukup jauh dari penyambutan Nabi. ”Tepuk tangan itu juga simbol dari kegembiraan menyambut kedatangan Nabi di Madinah saat berhijrah. Gerakan semuanya sebagai simbol kecintaan kepada kanjeng nabi,” tuturnya. (muhaimin)

 
Selamat Datang di Website Resmi Masjid Agung Jami Malang - Indonesia , Kirimkan Kritik, Saran dan Informasi ke admin@masjidjami.com
<---